PENDAHULUAN
Dalam dunia pendidikan tidak akan lepas dari transfer
of learning, transfer of thinking, dan transfer of training diamana semuanya membentuk satu kesatuan
menjadi transfer of meaning atau bagian dari transfer of meaning. Adapun
transfer of training sendiri lebih kaitannya dengan dunia pendidikan
atau pelatihan.
Dalam pendidikan juga menggunakan teori-teori untuk
memudahkan proses belajar mengajar. Pada mulanya teori-teori belajar
dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada
manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka
beranggapan bahawa hasil percoabaannya akan diterapkan kepada pada proses
belajar mengajar pada manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para
ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di
sekolah.
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Transfer of Training
Transfer
of training merupakan aplikasi yang efektif dan berkelanjutan yang bagian
dari dilatih oleh pelatih untuk keterampilan pekerjaan dan latihan. Tujuannya
agar diaplikasikan dalam pekerjaan. Karena dengan mengetahui transfer of training
maka akan mengetahui bagaimana pemindahan ilmu pengetahuan dari pendidik
kepada terdidik supaya diaplikasikan secara efektif dalam pekerjaan. Transfer
of training termasuk bagian dari transfer of learning dan transfer
of thinking yang membentuk satu kesatuan menjadi transfer of meaning.
Macam-macam transfer of training, yaitu:
- Transfer of training bernilai positif, hasil pelatihan yang akan meningkatkan pekerjaan
- Transfer of training bernilai negatif, hasil pelatihan yang akan menurunkan pekerjaan
- Transfer of training bersifat netral, hasil pelatihan tidak memperoleh pekerjaan
2.
Pembagian Ilmu Jiwa
1.
Dari segi sasaran / obyeknya, ilmu jiwa dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu :
§ Ilmu Jiwa Umum
yaitu obyek studinya adalah manusia dewasa seutuhnya, normal dan beradab.
§ Ilmu Jiwa Khusus
yaitu obyek studinya adalah bagian-bagian tertentu dari gejala-gejala jiwa
- Dari segi kegunaannya juga dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
§
Teoritis dipergunakan untuk mengembangkan pengetahuan
ilmu kejiwaan
§
Praktis digunakan untuk meningkatkan efektifitas dan efisinsinya
bidang tertentu dari aspek bidang kehidupan manusia.
Menurut Al-Kindi
bahwa jiwa manusia itu mempunyai tiga daya, yaitu daya berpikir (al-quwwah
al-‘aqliyah), daya marah (al-quwwah
al-ghadhabiyah), dan daya syahwat (al-quwwah al-syahwaniyah). Daya
berpikir itu disebut akal, akal terdiri dari tiga tingkat: (1) akal yang masih
bersifat potensial (al-quwwah), akal yang telah keluar dari sifat
potensial menjadi aktual (al-fi’il), dan akal yang telah mencapai
tingkat kedua dari aktualitas (al-‘ql at-tsany).
- Teori Ilmu Jiwa Asosiasi
Teori ini berprinsip bahwa keseluruhan itu sebenarnya
terdiri dari penjumlahan bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Teori ilmu jiwa
asosiasi disebut juga teori Sarbond (stimulus, respons, dan bond).
Stimulus berarti rangsangan, respon berarti tanggapan, dan bon
berarti dihubungkan. Rangsangan diciptakan untuk memunculkan tanggapan
kemudian dihubungkan antara keduanya dan terjadilah asosiasi.[1]
Dari
aliran ini ada dua teori yang sangat terkenal, yaitu: (1) teori konekteonisme
dari Thorndike dan (2) teori conditioning dari Pavlov.
1.
Teori Konekteonisme
Menurut Thorndike dasar dari belajar itu adalah asosiasi
antara kesan panca indra (sense impression) dengan impuls untuk
bertindak (impuls to action). Asosiasi yang dinamakan “connecting”. Dengan
kata lain belajar adalah pembentukan hubngan antara stimulus dan respon, antara
aksi dan reaksi.
Antara stimulus dan respon ini akan terjadi suatu
hubungan yang erat kalau sering dilatih. Berkat latihan yang terus-menerus,
berhubungan antara stimulus dan respon itu akan menjadi terbiasa atau otomatis.
Contoh: Lionel Messi, seorang pemain sepakbola (Barcelona FC) karena berkat
kegigihannya berlatih sepak bola, maka organisasi sepakbola dunia (FIFA) menobatkan
dirinya menjadi pemain terbaik dunia. Hal ini tidak hanya satu kali saja,
bahkan keberhasilan ini dia capai sebanyak empat kali berturut-turut
(2010-2013). Bahkan samapi sekarang belum ada di dunia sepak bola yang bisa
menyaingi rekor Lioner Messi ini.
2.
Teori Conditioning
Dalam praktik kehidupan sehari-hari pola seperti itu
banyak terjadi. Seseorang akan melakukan sesuatu kebiasaan karena adanya suatu
tanda. Misalnya: para siswa di sekolah disaat mendengarkan lonceng, maka mereka
pun berkumpul atau masuk kelas. Tentara/Polisi akan melakukan suatu gerakan
karena adanya aba-aba dari komandannya, dll.
- Teori Ilmu Jiwa Berpikir
Berpikir adalah gejala jiwa yang dapat menetapkan
hubungan-hubungan antara pengetahuan kita. Artinya pada saat kita berpikir,
pikiran kita melakukan tanya jawab dengan pikiran kita untuk dapat meletakkan
hubungan-hubungan antara pengetahuan kita secara cepat. Pertanyaan itu memberi
arah kepada pikiran kita, sedangkan berfikir menggunakan alat yaitu akal.
Berpikir
itu sendiri sebenarnya berkaitan dengan abstraksi-abstraksi. Dalam arti sempit
berfikir sebagai suatu pelacakan atau pencaharian dari hubungan-hubungan atau
sangkut paut. Jadi berpikir adalah menemukan hubungan-hubungan dan menetapkan
sangkut paut.
Menurut
aliran ilmu jiwa berpikir, bahwa berpikir merupakan pergaulan antara
pengertian-pengertian, sehingga proses berpikir itu diarahkan oleh: (1) soal
yang dijumpai, (2) berpikir itu menggunakan pengertian-pengertian yang komplek,
(3) berpikir itu menggunakan bagan, dan (4) berpikir itu memerlukan cara-cara
tertentu.
Di dalam berpikir terdapat istilah-istilah tentang:
- Pengetahuan dimana pengetahuan adalah tanggapan-tanggapan, pengertian-pengertian, keputusan-keputusan yang ada dalam jiwa manusia.
- Ilham / wahyu adalah sesuatu yang langsung diberikan kepada Nabi.
5.
Transfer of Training dalam Ilmu Jiwa Asosiasi dan Ilmu Jiwa Berfikir
a.
Transfer of Training dalam Ilmu Jiwa Asosiasi
Transfer of training dalam ilmu jiwa asosiasi merupakan transfer of training
yang berlangsung secara simultan melalui hubungan stimulus dan respon dalam
pembentukan pengetahuan. Transfer of training dalam ilmu jiwa asosiasi
tidak perlu karena dalam hal ini yang diperlukan adalah thinking dimana
berfungsi untuk mengumpulkan tanggapan-tanggapan.
b.
Transfer of Training dalam Ilmu Jiwa Berfikir
Transfer
of training dalam ilmu jiwa berfikir sangat diperlukan karena untuk
mengembangkan pengetahuan. Dalam hal ini juga transfer of training dalam
ilmu jiwa berfikir harus melihat permasalahannya atau persoalannya ada yang
sama dan tidak sama. Dalam hal ini jika persoalannya sama maka boleh
dilaksanakan.
KESIMPULAN
Transfer of training merupakan aplikasi yang efektif dan berkelanjutan yang
bagian dari dilatih oleh pelatih untuk keterampilan pekerjaan dan latihan.
Tujuannya agar diaplikasikan dalam pekerjaan. Transfer of training termasuk
bagian dari transfer of learning dan transfer of thinking yang
membentuk satu kesatuan menjadi transfer of meaning.
Transfer of training dalam ilmu jiwa asosiasi merupakan transfer of training
yang berlangsung secara simultan melalui hubungan stimulus dan respon dalam
pembentukan pengetahuan. Transfer of training dalam ilmu jiwa asosiasi
tidak perlu karena dalam hal ini yang diperlukan adalah thinking dimana
berfungsi untuk mengumpulkan tanggapan-tanggapan.
Transfer of training dalam ilmu jiwa berfikir sangat diperlukan karena untuk
mengembangkan pengetahuan. Dalam hal ini juga transfer of training dalam
ilmu jiwa berfikir harus melihat permasalahannya atau persoalannya ada yang
sama dan tidak sama. Dalam hal ini jika persoalannya sama maka boleh
dilaksanakan.
DAFTAR RUJUKAN
Djamarah, Bahri Syaiful dan Aswan. 2006. Strategi
Belajar Mengajar.Jakarta: Asdi Mahasatya
Sardiman. 2009. Interaksi & Motivasi Belajar
Mengajar. Jakarta: Rajawali Press