Minggu, 26 Januari 2014

Transfer of Training


 PENDAHULUAN

Dalam dunia pendidikan tidak akan lepas dari transfer of learning, transfer of thinking, dan transfer of training  diamana semuanya membentuk satu kesatuan menjadi transfer of meaning atau bagian dari transfer of meaning. Adapun transfer of training sendiri lebih kaitannya dengan dunia pendidikan atau pelatihan.
Dalam pendidikan juga menggunakan teori-teori untuk memudahkan proses belajar mengajar. Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahawa hasil percoabaannya akan diterapkan kepada pada proses belajar mengajar pada manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah.

PEMBAHASAN

1.      Pengertian Transfer of Training

            Transfer of training merupakan aplikasi yang efektif dan berkelanjutan yang bagian dari dilatih oleh pelatih untuk keterampilan pekerjaan dan latihan. Tujuannya agar diaplikasikan dalam pekerjaan. Karena dengan mengetahui transfer of training maka akan mengetahui bagaimana pemindahan ilmu pengetahuan dari pendidik kepada terdidik supaya diaplikasikan secara efektif dalam pekerjaan. Transfer of training termasuk bagian dari transfer of learning dan transfer of thinking yang membentuk satu kesatuan menjadi transfer of meaning.
Macam-macam transfer of training, yaitu:
  • Transfer of training bernilai positif, hasil pelatihan yang akan meningkatkan pekerjaan
  • Transfer of training bernilai negatif, hasil pelatihan yang akan menurunkan pekerjaan
  • Transfer of training bersifat netral, hasil pelatihan tidak memperoleh pekerjaan
 2.      Pembagian Ilmu Jiwa

1.    Dari segi sasaran / obyeknya, ilmu jiwa dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
§  Ilmu Jiwa Umum yaitu obyek studinya adalah manusia dewasa seutuhnya, normal dan beradab.
§  Ilmu Jiwa Khusus yaitu obyek studinya adalah bagian-bagian tertentu dari gejala-gejala jiwa
  1. Dari segi kegunaannya juga dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
§  Teoritis dipergunakan untuk mengembangkan pengetahuan ilmu kejiwaan
§  Praktis digunakan untuk meningkatkan efektifitas dan efisinsinya bidang tertentu dari aspek bidang kehidupan manusia.

Menurut Al-Kindi bahwa jiwa manusia itu mempunyai tiga daya, yaitu daya berpikir (al-quwwah al-‘aqliyah),  daya marah (al-quwwah al-ghadhabiyah), dan daya syahwat (al-quwwah al-syahwaniyah). Daya berpikir itu disebut akal, akal terdiri dari tiga tingkat: (1) akal yang masih bersifat potensial (al-quwwah), akal yang telah keluar dari sifat potensial menjadi aktual (al-fi’il), dan akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas (al-‘ql at-tsany).

  1. Teori Ilmu Jiwa Asosiasi
            Teori ini berprinsip bahwa keseluruhan itu sebenarnya terdiri dari penjumlahan bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Teori ilmu jiwa asosiasi disebut juga teori Sarbond (stimulus, respons, dan bond). Stimulus berarti rangsangan, respon berarti tanggapan, dan bon berarti dihubungkan. Rangsangan diciptakan untuk memunculkan tanggapan kemudian dihubungkan antara keduanya dan terjadilah asosiasi.[1]
            Dari aliran ini ada dua teori yang sangat terkenal, yaitu: (1) teori konekteonisme dari Thorndike dan (2) teori conditioning dari Pavlov.

1.      Teori Konekteonisme

Menurut Thorndike dasar dari belajar itu adalah asosiasi antara kesan panca indra (sense impression) dengan impuls untuk bertindak (impuls to action). Asosiasi yang dinamakan “connecting”. Dengan kata lain belajar adalah pembentukan hubngan antara stimulus dan respon, antara aksi dan reaksi.
Antara stimulus dan respon ini akan terjadi suatu hubungan yang erat kalau sering dilatih. Berkat latihan yang terus-menerus, berhubungan antara stimulus dan respon itu akan menjadi terbiasa atau otomatis. Contoh: Lionel Messi, seorang pemain sepakbola (Barcelona FC) karena berkat kegigihannya berlatih sepak bola, maka organisasi sepakbola dunia (FIFA) menobatkan dirinya menjadi pemain terbaik dunia. Hal ini tidak hanya satu kali saja, bahkan keberhasilan ini dia capai sebanyak empat kali berturut-turut (2010-2013). Bahkan samapi sekarang belum ada di dunia sepak bola yang bisa menyaingi rekor Lioner Messi ini.  

2.      Teori Conditioning

Dalam praktik kehidupan sehari-hari pola seperti itu banyak terjadi. Seseorang akan melakukan sesuatu kebiasaan karena adanya suatu tanda. Misalnya: para siswa di sekolah disaat mendengarkan lonceng, maka mereka pun berkumpul atau masuk kelas. Tentara/Polisi akan melakukan suatu gerakan karena adanya aba-aba dari komandannya, dll.

  1. Teori Ilmu Jiwa Berpikir
            Berpikir adalah gejala jiwa yang dapat menetapkan hubungan-hubungan antara pengetahuan kita. Artinya pada saat kita berpikir, pikiran kita melakukan tanya jawab dengan pikiran kita untuk dapat meletakkan hubungan-hubungan antara pengetahuan kita secara cepat. Pertanyaan itu memberi arah kepada pikiran kita, sedangkan berfikir menggunakan alat yaitu akal.
            Berpikir itu sendiri sebenarnya berkaitan dengan abstraksi-abstraksi. Dalam arti sempit berfikir sebagai suatu pelacakan atau pencaharian dari hubungan-hubungan atau sangkut paut. Jadi berpikir adalah menemukan hubungan-hubungan dan menetapkan sangkut paut.
            Menurut aliran ilmu jiwa berpikir, bahwa berpikir merupakan pergaulan antara pengertian-pengertian, sehingga proses berpikir itu diarahkan oleh: (1) soal yang dijumpai, (2) berpikir itu menggunakan pengertian-pengertian yang komplek, (3) berpikir itu menggunakan bagan, dan (4) berpikir itu memerlukan cara-cara tertentu.
Di dalam berpikir terdapat istilah-istilah tentang:
  • Pengetahuan dimana pengetahuan adalah tanggapan-tanggapan, pengertian-pengertian, keputusan-keputusan yang ada dalam jiwa manusia.
  • Ilham / wahyu adalah sesuatu yang langsung diberikan kepada Nabi.
5.      Transfer of Training dalam Ilmu Jiwa Asosiasi dan Ilmu Jiwa Berfikir

a.       Transfer of Training dalam Ilmu Jiwa Asosiasi

Transfer of training dalam ilmu jiwa asosiasi merupakan transfer of training yang berlangsung secara simultan melalui hubungan stimulus dan respon dalam pembentukan pengetahuan. Transfer of training dalam ilmu jiwa asosiasi tidak perlu karena dalam hal ini yang diperlukan adalah thinking dimana berfungsi untuk mengumpulkan tanggapan-tanggapan. 

b.      Transfer of Training dalam Ilmu Jiwa Berfikir

          Transfer of training dalam ilmu jiwa berfikir sangat diperlukan karena untuk mengembangkan pengetahuan. Dalam hal ini juga transfer of training dalam ilmu jiwa berfikir harus melihat permasalahannya atau persoalannya ada yang sama dan tidak sama. Dalam hal ini jika persoalannya sama maka boleh dilaksanakan.


KESIMPULAN

Transfer of training merupakan aplikasi yang efektif dan berkelanjutan yang bagian dari dilatih oleh pelatih untuk keterampilan pekerjaan dan latihan. Tujuannya agar diaplikasikan dalam pekerjaan. Transfer of training termasuk bagian dari transfer of learning dan transfer of thinking yang membentuk satu kesatuan menjadi transfer of meaning.
Transfer of training dalam ilmu jiwa asosiasi merupakan transfer of training yang berlangsung secara simultan melalui hubungan stimulus dan respon dalam pembentukan pengetahuan. Transfer of training dalam ilmu jiwa asosiasi tidak perlu karena dalam hal ini yang diperlukan adalah thinking dimana berfungsi untuk mengumpulkan tanggapan-tanggapan.
Transfer of training dalam ilmu jiwa berfikir sangat diperlukan karena untuk mengembangkan pengetahuan. Dalam hal ini juga transfer of training dalam ilmu jiwa berfikir harus melihat permasalahannya atau persoalannya ada yang sama dan tidak sama. Dalam hal ini jika persoalannya sama maka boleh dilaksanakan.

DAFTAR RUJUKAN
Djamarah, Bahri Syaiful dan Aswan. 2006. Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: Asdi Mahasatya
Sardiman. 2009. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press







[1] Syaiful Bahri Djamarah. 2003. Hlm: 23

Tidak ada komentar:

Posting Komentar